Kamis, 12 Maret 2009

Pelajaran Dari Turki

Sebagai sesama negara berkembang yang mayoritas islam kita seharusnya tahu beberapa fakta terbaru dari Turki. Khususnya tentang dinamika perpolitikan yang terjadi disana. Seperti kita ketahui, AKP Partai yang berasaskan islam memenangi suara mayoritas di negara ultra sekuleris tersebut. Tentunya hal ini menggemparkan seluruh dunia dan juga pihak militer Turki sebagai penjaga ke-sekuler-an Turki. Dalam dua kali pemilihan, AKP memenangi suara mayoritas dan menguasai hampir 50 persen kursi di parlemen. Kemenangan ini juga mengantarkan duo mantan aktivis islam, Abdullah Gul sebagai Presiden dan Tayyip Erdogan sebagai Perdana Menteri.

Fenomena menarik ini berawal dari sebuah pembuktian bahwa islam (dalam hal ini di reprersentatifkan oleh AKP) mampu membawa kemajuan dan kemakmuran bagi Turki. Beberapa keberhasilan mereka diantaranya. Sanering mata uang lira, dengan menghilangkan 6 digit nol pada mata uangnya, yang pada akhirnya semakin memudahkan transaksi dan menguatkan nilai lira itu sendiri. Kedua mengantarkan Turki sebagai Emerging Market yang diperhitungkan dunia, dengan pertumbuhan ekonomi konsisten diatas 7 persen pertahun. Ketiga merintis masuknya Turki menjadi salah satu negara Uni Eropa.

Meskipun secara blak-blakan mengaku aktivis islam. Abdullah Gul dan Tayyip erdogan tidak serta merta memaksakan diberlakukan hukum syariah di negara itu. Mereka lebih pada mengikuti arus dan memperbaikinya menjadi lebih baik. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia bagaimana merebut simpati rakyat dengan bukti nyata bukan dengan sekedar umbar janji.

Memang ajaran islam merupakan kebenaran yang mutlak. Hal ini yang seringkali dijual oleh partai islam di Indonesia. Kondisi itu diperparah dengan banyak berdirinya partai berasaskan islam. Kurangnya kemauan untuk bersatu dan masih kolotnya memperdebatkan masalah khilafiah membuat kondisi perpolitikan islam di Indonesia semakin tidak menentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar