Sabtu, 14 Maret 2009
URGENSI MANAJEMEN WAKTU BAGI KITA
Islam amat mementingkan perihal waktu. Seorang muslim tidak pantas menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengatur waktunya. Allah Azza wajallah telah mengingatkan kita akan pentingnya watu dengan beberapa kali menyebutkannya dalam Kitab Alquran. Islam menganggap pemahaman tentang waktu sebagai salah satu indikator keimanan dan bukti ketaqwaan, Allah berfirman : “sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”(QS Yunus: 6). Dalam beberapa ayat quran juga banyak disinggung tentang sumpah Allah yang menekankan pada pentingnya waktu dan keagungannya.beberapa ayat tersebut ialah:
• “demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan malam apabila terang benderang”. (QS Al Lail: 1-2)
• “Demi fajar dan malam yang sepuluh”. (QS. Al Fajr: 1-2)
• “Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi”. (QS Ad Dhuha: 1-2)
• “Demi masa, Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi”.(QS. Al Ashr: 1-2)
Dan sebagainya.
Selain itu, nabi Muhammad dalam sunnahnya juga beberapa kali menyinggung pentingnya waktu. Seperti hadist yang diriwayatkan At Turmudzi dalam As-sunan: Rosulullah bersabda : “dua telapak kaki hamba tidak akan bergeser dari tempatnya pada hari kiamat nanti, sehingga ditanya tentang empat hal: Tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, dalam hal apa ia binasakan? Tentang hartanya, darimana diperoleh dan dalam hal apa diinfakkan? Serta tentang ilmunya, apa yang dia lakukan dengannya?. Hadist lain seperti yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam al Mustadrak mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “gunakan lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum jatuh sakit, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum sampai ajalmu.”.
Jika kita perhatikan, syiar-syiar islam juga menegaskan urgensi dan nilai waktu. Islam menempatkan ibadah ritual dengan pembagian waktu yang jelas dengan batas-batas tertentu. Seperti sholat wajib lima waktu yang penempatan waktunya selaras dengan aktivitas manusia. Hal ini secara tidak langsung memaksa umat islam untuk memberi perhatian lebih tentang penggunaan waktu.
Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut:
• Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur'an maupun As Sunnah;
• Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
• Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.
Cara di bawah ini mungkin sedikit banyak membantu agar manajemen waktu kita lebih efektif:
- Tetapkan tujuan dan cita-cita hidup anda( Target ).
agar hidup lebih bermakn, seharusnya kita sebagai umat manusia memiliki keinginan tertentu yang harus kita capai sebelum ajal menjemput kita. Tujuan dan cita-cita hidup harus kita tetapkan sedini mungkin agar waktu pencapaiannya mencukupi intuk meraihnya. Dan yang terpenting tujuan dan cita-cita kita harus realistis dan jelas.
- Lakukan perencanaan.
Untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang telah kita tentukan. Hal terpenting setelah itu ialah menetapkan langkah-langkah apa untuk menuju ke tujuan kita. Langkah-langkah ini tentunya harus sistematis dan realistis untuk melakukannya. Langkah-langkah ini terangkum dalam perencanaan jangka panjang dan rencana jangka pendek.
- Tetapkan skala prioritas.
Setelah tahapan sebelumnya tercapai, tetapkan dan tentukan dari beberapa langkah tersebut mana yang paling penting dan paling mendesak.
- Luangkan waktu.
Meskipun kita memiliki sejumlah rencana yang akan segera direalisasikan. Kita juga harus sadar bahwa diri kita juga butuh penyegaran, rekreasi untuk me-refresh pikiran dan tubuh kita. Luangkan waktu untuk break sejenak melepas kepenatan dan kejenuhan rutinitas yang kita lakukan. Namun jangan lupa sehingga waktu luang yang kita luangkan tidak sampai berpengaruh pada menurunnya produktifitas kita.
Kamis, 12 Maret 2009
ARAH INDUSTRIALISASI iNDONESIA
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Hal ini menyebabkan keadaan geososiologinya lebih cenderung terletak di daerah pesisir pantai. Memang jika kita lihat hampir semua kota besar di Indonesia terletak di tepi pantai (daerah pesisir). Keadaan ini menyababkan banyak penduduk lebih memilih untuk menyambung hidup di daerah tepian itu ketimbang hidup di pedalaman. Di lain sisi banyak juga daerah-daerah terbentuk di pesisir yang sebagian besar berkomposisikan nelayan kecil yang tergolong miskin. Keadaan ini diperparah dengan hanya berkonsentrasinya pusat perekonomian disatu tempat sehingga banyak terjadi ketimpangan perihal derajat kemakmuran.
Berkaca dari hal di atas, kita seharusnya bisa membawa kemakmuran yang lebih pada negeri ini. Resource alam dan sumber daya manusia yang melimpah jika dikelola lebih baik akan menghasilkan hal yang lebih baik pula. Pengelolaan yang menghasilkan nilai suatu barang lebih tingga mendesak untuk dilakukan daripada hanya menghasilkan bahan mentah yang bernilai jual rendah kemudian diolah oleh asing dan kita kembali membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Konsep industrialisasian inilah yang kurang optimal terjadi di negara Indonesia. Paradigma kita yang lebih suka membeli daripada membuat sendiri secara perlahan namun pasti mengantarkan kita sebagai bangsa yang konsumtif dengan tingkat inovasi dan kreatifitas yang rendah.
Kemudian jika kita hubungkan dengan kebijakan pemerintahan ( dari era Soeharto hingga Susilo Bambang Yudoyono) yang memang terdapat beberapa capaian untuk mengarah pada industrialisasi. Tetapi kebanyakan proyek tersebut terindikasi gagal sehingga semakin mengantarkan Indonesia menuju deindustrialisasi. Industri mobil nasional (mobnas) yang memiliki visi agar Indonesia mampu memproduksi kendaraan pribadi secara mandiri ternyata mangkrak diiringi berbagai kasus yang menyertainya. Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) yang sempat membanggakan kitra karena berhasil merancang dan memproduksi pesawat terbang ternyata mau tidak mau harus menerima status pailit/bangkrut. Selain itu gagal kerja yang terjadi pada industri kereta api nasional dan industri perkapalan sehingga menyebabkan berbagai kecelakaan memgindikasikan kurang paripurnanya pengelolaan industri di dalam negeri. Beberapa contoh kasus gagalnya konsep industri mandiri yang dirangcang membuktikan bahwa Indonesia mengarah menuju deindustrialisasi.
Segala akibat pasti memiliki sebad. Berikut adalah beberapa sebab dalam menganalisa kemunduran Indonesia dalam hal industrialissasi. Pertama, indonesia “buta” infrastruktur. Yang dimaksud infrastruktur disini bukan hanya melulu mengenai pembangunan jalan, gedung-gedung dan sebagainya. Melainkan lebih mengarah pada pembangunan yang bersifat jangka panjang. Perhatian pada pembenahan infrastruktur yang kurang maksimal bisa disebabkan oleh beberapa faktor,semisal elit pejabat publik pengambil kebijakan yang hanya berorientasi pada siklus politik jangka pendek (5 tahunan) sehingga sedikit sekali ada kontinuitas pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Pemerintah yang memimpin sekarang ini cenderung kurang totalitas dalam menggebrak infrastruktur dikarenakan kekhawatiran bahwa proyek pembangunannya baru selesai pada periode selanjutnya yang kemudian diklaim sebagai keberhasilan pemerintahan yang baru. Memang tidak mudah mengubah dan perlu komitmen jangka panjang untuk mewujudkan ini semua. Selain itu, selama ini penentuan kebijakan hanya terbeban pada politisi yang tidak jarang kurang memahami arti pentingnya pembangunan suatu proyek infrastruktur. Sehingga tak jarang pembangunan infrastruktur hanya menjadi suatu kebijakan populis untuk menyenangkan rakyat tanpa memikirkan prospek jangka panjangnya.
Kedua, persepsi dagang jangka pendek. Memang secara keekonomian lebih murah dan cepat jika kita tinggal membeli barang jadi. Dana yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan pengembangan suatu produk lebih mahal daripada sekedar membuka kran investasi asing untuk memproduksi produknya di Indonesia. Pada akhirnya daya kreasi untuk menghasilkan produk sendiri kurang terfasilitasi karena rendahnya anggaran penelitian untuk meng-create produk sendiri. Tak jarang kran investasi yang dibuka lebar-lebar tidak diiringi dengan pengalihan teknologi sehingga acapkali negeri ini hanya dijadikan basis produksi produk asing. Belajar dari pengalaman negara maju dimana mereka mengalokasikan dana yang besar untuk penelitian, sehingga meskipun mereka miskin natural resource tapi tetap mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai jual tinggi.
Kemudian, apa yang harus kita lakukan? Sebagai pemegang otoritas dan pembuat kebijakan, pemerintah harus berani menrbitkan kebijakan untuk mengubah paradigma menjadi “lebih baik memproduksi sendiri daripada membeli”. Pemerintah harus memperhatikan para ilmuwan dan entreprener dalam negeri yang mengusahakan penciptaan suatu produk baru yang “100 % made in Indonesia”. Misalnya dengan pemberian modal dana riset, subsidi penjualan ataupun proteksi produk dalam negeri terhadap produk impor. Selain itu perhatian terhadap sistem pendidikan para generasi penerus juga patut diperhatikan. Pendidikan yang berorientasi mutu dan kewirausahaan haruslah ada dalam sistem pendidikan kita.
DISARIKAN DARI SEMINAR BAHARI NASIONAL
KAMIS, 12 FEBRUARI 2009
Gedung Rektorat Lt.III ITS Surabaya
Pelajaran Dari Turki
Sebagai sesama negara berkembang yang mayoritas islam kita seharusnya tahu beberapa fakta terbaru dari Turki. Khususnya tentang dinamika perpolitikan yang terjadi disana. Seperti kita ketahui, AKP Partai yang berasaskan islam memenangi suara mayoritas di negara ultra sekuleris tersebut. Tentunya hal ini menggemparkan seluruh dunia dan juga pihak militer Turki sebagai penjaga ke-sekuler-an Turki. Dalam dua kali pemilihan, AKP memenangi suara mayoritas dan menguasai hampir 50 persen kursi di parlemen. Kemenangan ini juga mengantarkan duo mantan aktivis islam, Abdullah Gul sebagai Presiden dan Tayyip Erdogan sebagai Perdana Menteri.
Fenomena menarik ini berawal dari sebuah pembuktian bahwa islam (dalam hal ini di reprersentatifkan oleh AKP) mampu membawa kemajuan dan kemakmuran bagi Turki. Beberapa keberhasilan mereka diantaranya. Sanering mata uang lira, dengan menghilangkan 6 digit nol pada mata uangnya, yang pada akhirnya semakin memudahkan transaksi dan menguatkan nilai lira itu sendiri. Kedua mengantarkan Turki sebagai Emerging Market yang diperhitungkan dunia, dengan pertumbuhan ekonomi konsisten diatas 7 persen pertahun. Ketiga merintis masuknya Turki menjadi salah satu negara Uni Eropa.
Meskipun secara blak-blakan mengaku aktivis islam. Abdullah Gul dan Tayyip erdogan tidak serta merta memaksakan diberlakukan hukum syariah di negara itu. Mereka lebih pada mengikuti arus dan memperbaikinya menjadi lebih baik. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia bagaimana merebut simpati rakyat dengan bukti nyata bukan dengan sekedar umbar janji.
Memang ajaran islam merupakan kebenaran yang mutlak. Hal ini yang seringkali dijual oleh partai islam di Indonesia. Kondisi itu diperparah dengan banyak berdirinya partai berasaskan islam. Kurangnya kemauan untuk bersatu dan masih kolotnya memperdebatkan masalah khilafiah membuat kondisi perpolitikan islam di Indonesia semakin tidak menentu.
